Tuesday, August 19, 2014

. . . . “S E J A R A H” . . . . “Indonesia-Belanda dalam Retrospektif Bagaimana Perspektifnya . . . . . . . . ? ?

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 19 Agustus 2014
----------------------------------------

. . . . “S E J A R A H” . . . .
Indonesia-Belanda dalam Retrospektif
Bagaimana Perspektifnya . . . . . . . . ? ?

Lusa, 21 Agustus, 2014, akan ada kegiatan menarik dan penting, di Jakarta. -- “Pameran Arsip Budi Utomo”. Diselenggarakan oleh kerjasama Arsip Nasional Indonesia, Arsip Nasional Belanda, Erasmus Huis dan Majalah Historia. Bentuk kerjasama di bidang sejarah antar kedua fihak, Indonesia – Belanda, patut didorong. Agar dari suatu kegiatan yang sifatnya “kadang-kadang” (sporadis) , menjadi suatu kegiatan reguler kerjasama jangka panjang.

Undangan untuk Pameran tsb sudah disebarluaskan oleh BonnieTriyana, Pemimpin Majalah Historia.

Mengenai masalah penting, seperti a.l mengenai kapan persisnya Indonesia merdeka dan berdaulat sebagai suatu negara – mengenai masalah penting ini, antara (fihak resmi) Belanda dan kita, masih berbeda. Ini menunjukkan bahwa masih ada masaalah besar yang belum “selesai” antara (fihak resmi) Belanda dan Indonesia.

Kiranya mengenai masalah tsb, akan bisa dicapai pemahaman dan pengertian, yang sama, sebagai hasil dari usaha suatu program studi bersama oleh para sejaraw, pakar dll dari kedua negeri.

* * *

Tidak sedikit sejarawan dan penulis Belanda yang telah membuat catatan sejarah, bahkan, menulis hubungn Indonesia – Belanda dalam perspektif sejarahnya. Seperti Prof Dr Wertheim, Dr Bob Hering, J. Pluvier, Dr Harry Poeze, Dr Herman Burgers, Jan Breman, Henk Schulte
Nordhold; Nico S.Nordhold, Gerry van Klinken dan banyak lainnya.

Seorang diantara mereka itu, sejarawan Belanda, Dr Herman Burgers, kita soroti sedikit. Mengenai bukunya itu, dua tahun y.l, (10 Juni 2012) -- kubuat tulisan a.l di bawah ini:

* * *

BERITA-GEMBIRA DARI HERMAN BURGERS
Tadi malam kubaca di e-mailku BERITA GEMBIRA dari kenalanku sejarawan Belanda, Dr HERMAN BURGERS.*

Herman Burgers menyampaikan bahwa atas usaha keras a.l. Dr Tol, wakil KITLVdi Jakarta dan sebuah penerbit Jakarta, direncanakan terbit edisi Indonesiabuku "De Garoeda en de Ooievaar, -- Indonesië van Kolonie tot Nationale Staat"; bahasa Indonesianya, "Sang Garoeda dan Sang Bangau, -- Indonesia dari Jajahan sampai ke Negara Nasional". Mudah-mudahan sudah bisa keluar
dari percetakan dalam bulan Agustus 2013.

Akan terbitnya edisi Indonesia dari buku Herman Burgers itu adalah suatu perkembangan menarik dan penting sehubungan dengan usaha bersama kita untuk mengenal sejarah bangsa sendiri. *Sehubungan dengan ini patutlah kita berterima kasih pada penulisnya, Herman Burgers, KITLV dan sebuah penerbitdi Jakarta.

Tak jelas sampai dimana usah para sejarawan kita menulis buku sejarah Indonesia yang agak menyeluruh atau yang difokuskan pada masa bangkitnya gerakan kemerdekaan nasional, yang bisa dinilai sebagai suatu penulisan sejarah yang tidak rekayasa seperti yang dilakukan oleh sementara
"sejarawan" Orba. Kita mengenal nama-nama sejarawan/sarjana muda seperti Muridan Widjojo, Asvi Adam, Bambang Purwanto, Gonggong, BonnieTriyana, dan Batara Hutagalung untuk menyebut satu dua dari beliau-beliau itu. Sebegitu jauh belum muncul dari mereka hasil studi sejarah yangmenyeluruh sebagaimana halnya hasil karya sejarawan Belanda, Herman Burgers.


Dari sini menjadi lebih nyata bahwa di Belanda terdapat cendekiawan-cendekiawan Belanda yang punya perhatian besar terhadap masalah sejarah Indonesia, seperti Harry Poeze (penulis buku sejarah Tan Malaka, yang sudah mulai terbit edisi Indonesianya; Jan Breman, Henk Schulte
Nordhold; Nico S.Nordhold, Gerry van Klinken dll. Kita akan selalu ingat pada nama W.F. Wertheim (Pak Wim) yang telah menulis buku klasik dan standar INDONESIAN SOCIETY IN TRASITION, sudah ada edisi Indonesianya); serta buku J. Pluvier, Sejarah Gerakan Kemerdekaan Indonesia (sayang masih belum ada edisi Indonesianya; walaupun pernah ada usaha menterjemahkan dan mengedarkannya di kalangan terbatas) .


Betapapun mereka-mereka ini akan terus memberikan sumbangsihnya bagi usaha lebih lanjut saling mengenal dan saling memahami di antara kedua bangsa, Indonesia dan Belanda, yang punya sejarah yang panjang. Suatu usaha yang akan lebih mendekatkan hubungan baik, wajar dan setara antara kedua bangsa dan negeri.
DAN DUNGUNYA penguasa yang berwewenang dari Wereld Omroep Radio Nederland, yang bulan ini MENYETOP siaran seksi Indonesia (Ranesi) dari Radio Nederland Wereld Omroep>.


* * *

Pada tanggal 13 Mei, 2011, telah kutulis sebuah kolom SEKITAR BUKU HERMAN
BURGERS -- "DE GAROEDA EN DE OOIEVAAR"
Baik>. Isinya a.l sbb:, bahwa KITLV Leiden belum lama (24/11/2010) menerbitkan buku yang menarik perhatian, yaitu,

"De Garoeda en de Ooievaar"
Sahabatku jurnalis Belanda (kawakan) Hans Beynon, menganggap buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh sejarawan Herman Burgers, sebagai salah satu penelitian terpenting mengenai hubungan Indonesia-Belanda. Tulisanku ini bukanlah sebuah resensi atas buku H. Burgers. Sekadar kesan. Untuk menggugah. Menarik perhatian pembaca mengenai buku sejarah Indonesia yang
ditulis oleh seorang sejarawan Belanda.

* * *

Bulan April 2011, yang lalu, sebelum memiliki sendiri buku itu, akuberuntung bisa meminjam dari Openbare Bibliotheek Bijlmer, buku 'bagus' tsb : "INDONESIË Van Kolonie Tot NATIONALE STAAT". Judul besar buku sejarah ini "DE GAROEDA En De OOIEVAAR".

Tebalnya lumayan - 807 halaman. Di toko harganya paling tidak Euro 49,90.

* * *

Baik dijelaskan sedikit mengapa penulis Herman Burgers mengambil 'Garoeda' untuk melambangkan Indonesia. Dan mengambil 'bangau', sebagai lambang Nederland. Mengenai ´Garuda´ sebagai lambang Indonesia, tak perlu penjelasan. Anggap saja semua warga Indonesia yang peduli tanah air, bangsa dan sejarahnya, sudah mengetahuinya.

Tulis H. Burgers: -- Bagi Nederland bangau itu adalah burung terbesar. Sejak zaman dulu bangau itu punya peranan mistik dalam mitologi Belanda. Ratusan tahun lamanya burung bangau menjadi lambang kota Den Haag. Bangau bukan simbol Nederland. Tapi simbol Den Haag. Sedangkan untuk melambangkan kekuasaan Nederland, biasa orang menyebutnya pemerintah Den Haag. Jadi Nederland dianggp identik dengan Den Haag dan sebaliknya. Ini sederhananya saja.

J. Herman Burgers (75th) sejak semula mengikuti dengan penuh perhatian konflik antara Belanda dan Indonesia, terutama yang menyangkut tahun-tahun 1948-1950. Ketika itu Burgers anggota KL (Koninklijke Leger) -- (dinas wajib militer) dan berada di Indonesia. Burgers kemudian bekerja
di Kementerian Luar Negeri Belanda. Jadi tergolong 'orang dalam'.

* * *

Membaca buku ini menyegarkan. Karena ditulis dengan jelas dan baik. Fakta-faktanya cukup. Literatur yang digunakan juga cukupan. Namun yang khusus patut dihargai ialah SIKAP DAN PENDIRIAN penulisnya. Boleh dikatakan bertolak belakang dengan pandangan dan sikap banyak penulis Belanda lainnya mengenai Indonesia.

Satu contoh: Tulis H. Burgers dalam Kata Pengantarnya, a.l: -- Oleh karena pergerakan nasional Indonesia, berjuang melawan kekuasaan Belanda, maka, orang baru bisa memahaminya dengan baik, bila mengetahui bagaimana terjadinya penguasaan tsb. Suatu cara berfikir Burgers yang logis dan wajar!

* * *

Juga menarik ialah analisis Burgers, bahwa berdirinya negara Indonesia bukan saja berkat gerakan kemerdekaan nasional, -- tetapi juga karena adanya faktor dan peranan kekuasaan Belanda, yang dilawan oleh gerakan kemerdekaan Indonesia. Dari pandangan ini Burgers memasuki masalahnya.
Pertama-tama dengan menelaah perkembangan pokok kebijakan Hindia-Belanda terhadap Indonesia. Kemudian melanjutkannya dengan gerakan kemerdekaan nasional, menyerahnya Hindia-Belanda dan pendudukan Jepang (1942-1945).

Penting pula analisis Burgers, bahwa periode pendudukan Balatentera Jepang di Indonesia, (punya peranan) melapangkan jalan bagi kemerdekaan Indonesia serta diprokalamasikannya Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Burgers tampak kritis terhadap sikap Belanda yang hendak terus menguasai Irian Barat. Tulis Burgers: Konflik Belanda-Indonesia berakhir dengan Persetujuan KMB. Namun, menyisakan masalah Irian Barat. Belanda terus saja menduduki Irian Barat. Analisis Burgers mengenai faktor pendudukan Jepang di Indonesia yang dikatakannya punya peranan 'melapangkan jalan' bagi kemerdekaan Indonesia, pernah juga ku-utarakan dalam salah satu
seminar. Tidak banyak yang bersedia menerimanya.

Sikap Belanda, yang menolak menyerahkan Irian Barat, mengakibatkan 13 tahun lamanya Belanda bersengketa dengan Indonesia mengenai masalah tsb. Sampai Indonesia akhirnya memutuskan samasekali hubungan dengan Belanda. Demikian Burgers.

Penuturan mengenai sengketa Indonesia-Belanda mengenai Irian Barat, mengambil tempat hampir separuh dari buku Burgers.


* * *


Menulis tentang berbagai periode dalam sejarah hubungan kedua negeri, Burgers menunjukkan bahwa antara pelbagai periode itu terdapat saling hubungan yang erat sekali. Kesinambungan tahap-tahap perkembangan tsbtercermin pada kehidupan SOEKARNO, HATTA, dan banyak/tokoh dramatis/ lainnya, seperti Soewardi Soerjaningrat, Agoes Salim, Sam Ratulangi, Jonkman dan Van Mook.

* * *

Penting untuk menjadi pengetahuan kita semua, khususnya para pemeduli sejarah di Indonesia, apa yang dikemukakan oleh Herman Burgers dalam bukunya, a.l sbb:

Sehubungan dengan terjadinya penguasaan Nederland (atas Indonesia), --Bagi kebanyakan orang Belanda dari periode sebelum Perang Dunia II, halitu sederhana sekali. Mereka menganggap bahwa seluruh "Hindia" sejakabad ke-XVII sudah ada di bawah kekuasaan Nederland. Anggapan keliru
demikian itu juga masih terdapat pada banyak kaum nasionalis Indonesia. Mereka bicara tentang 'tiga ratus tahun', bahkan 'tigaratus limapuluh tahun' penindasan Belanda terhadap Indonesia.

Sesungguhnya, perluasaan kekuasaan Nederland atas Indonesia, terjadi selangkah demi selangkah, berangsur-angsur. Itu terjadi dalam jangka waktu 350 tahun itu.

* * *

Herman Burgers mengungkapkan bahwa penguasaan Belanda atas Indonesia, -- kongkritnya dilakukan oleh VOC, berlangsung selangkah demi selangkah. Pada tahap permulaan VOC harus berhadapan lebih-dulu dengan Portugis, Spanyol dan Inggris. Karena tiga negeri itu, sudah lebih dulu usahanya mencaplok sumber rempah-rempah di Asia. Belanda terpaksa lebih-dulu
mengalahkan saingan-saingannya. Mereka berkali-kali terlibat dalam peperangan sampai Belanda akhirnya berhasil mengusir Portugis, Spanyol dan Inggris. VOC mulai menjadikan sebagian kecil terlebih dahulu dariIndonesia, yaitu kepulauan Maluku dan sekitarnya, -- yang merupakan
penghasil utama rempah-rempah ketika itu, menjadi jajahannya langsung.


Herman Burgers juga mengungkapkan betapa luarbiasa kejamnya VOC, di bawah Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen (1587-1629). Ketika menaklukkan perlawanan rakyat Maluku, Banda,Ternaté,Tidoré dan sekitarnya. VOC menggunakan serdadu-serdadu sewaanlangsung dari Eropah, lalu ditambah dengan serdadu sewaan setempat. Selain itu, Belanda, khusus mendatangkan
'pendekar-pendekar maut' dari Jepang, untuk menteror dan membantai rakyat Maluku, Banda, Ternate, Tidore dst.

Sejak digulingkannya Presiden Sukarno, sering disebut telah terjadinya 'genocide' terhadap rakyat di Indonesia (sehubungan dengan Peristiwa Pembanrtaian Masal 1965 oleh tentara di bawah Jendral Suharto). -- Tetapi sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh Gubernur Jendral VOC Jan
Pieterszoon Coen, terhadap rakyat Maluku dan Banda dalam abad ke-XVII itu, ---- adalah GENOCIDE PERTAMA yang terjadi di Indonesia.


Dalam proses memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah, serta penguasaan wilayah, VOC, disatu fihak, melarang penanaman rempah-rempah di tempar lain yang tak bisa sepenuhnya dia kuasai. Di lain fihak dengan sewenang-wenang membakar tanaman rempah-rempah di tempat-tempat lainnya, dan akhirnya membantai rakyat setempat. Peristiwa-peristiwa tsb, seperti a.l pengiriman ekspedisi militer, dalam sejarah penjajahan Belanda atas Indonesia dikenal a.l. sebagai 'Hongi tochten' di kepulauan Maluku, Banda dan sekitarnya.


* * *

Studi sejarah Indonesia, seperti yang dilakukan oleh sejarawan Herman Burgers, banyak mengungkap hal-hal yang rinci dalam hubungan Indonesia-Belanda. Ini perlu jadi pengetahuan pemeduli sejarah Indonesia, lebih-lebih para historikus, politisi dan generasi muda
Indonesia umumnya.


Tanggapan atas buku Herman Burgers diatas, --- adalah secuplik saja dari apa yang bisa dikemukakan mengenai karyanya itu. Sementara sampai di sini dulu. Lain kali masih bisa ditanggapi bagian-bagian lainnya dari buku Herman Burgers.

* * *

Buku Herman Burgers tsb ditulis dalam bahasa Belanda.

Mudah-mudahan sudah terkandung niat pada KITLV, Leiden, dengan fihak manapun partnernya di Indonesia, untuk menerbitkan *EDISI INDONESIA, buku "DE GAROEDA EN DE OOIEVAAR", "INDONESIË Van Kolonie Tot NATIONALE STAAT".


Ketika diundang ke LIPI tahun lalu ( Agustus 2011) untuk bicara, dimana Asvi Adam adalah tuan rumahnya aku tandaskan bahwa:

". . . . . . di Belanda juga terdapat tidak sedikit orang dan cendiakawan muda, penulis maupun sejarawan yang bisa dengan obyektif menilai kejahatan kolonialisme Belanda di masa lampau terhadap Indonesia. Salah seorang dari sejarawan itu adalah Herman Burgers, yang tahun lalu menulis buku sejarah hubungan Indonesia-Belanda, berjudul 'DE GARUDA EN DE OOIEVAAR'. Diterbitkan oleh KITLV, tahun 2010. Buku sejarah ini menurutku cuku obyektif dan berani dalam mengungkap kejahatan kolonialisme, serta kekerasan kepala politik Belanda mengenai masalah
Irian Barat. Sehingga hubungan Indonesia-Belanda berlarut-larut memburuk terus oleh karenanya.


" . . . . . di Belanda juga terdapat tidak sedikit orang dan cendiakawan muda, penulis maupun sejarawan yang bisa dengan obyektif menilai kejahatan kolonialisme Belanda di masa lampau terhadap Indonesia. Salah seorang dari sejarawan itu adalah *Herman Burgers*, yang tahun lalu
menulis buku sejarah hubungan Indonesia-Belanda, berjudul *'DE GARUDA EN DE OOIEVAAR'.* Diterbitkan oleh KITLV, tahun 2010. Buku sejarah ini menurutku cuku obyektif dan berani dalam mengungkap kejahatan kolonialisme, serta kekerasan kepala politik Belanda mengenai masalah Irian Barat. Sehingga hubungan Indonesia-Belanda berlarut-larut memburuk
terus oleh karenanya.

Juga kuceriterakan, bahwa di Belanda ada sebuah buku yang ditulis oleh 9 orang sejarawan dan penulis berjudul "DE GRROOTSTE NEDERLANDER", Orang Belanda terbesar. Diantara orang Belanda terbesar mereka masukkan nama Ir Sukarno. Yang telah berjuang sejak muda untuk kemerdekaan bangsanya. Aku bilang kepada teman-teman LIPI: Tidak pernah kubaca tulisan orang
Belanda yang demikian baiknya tentang Ir Sukarno.


Seperti dijelaskan oleh Herman Burgers dalam surat e-mailnya yang kuterima tadi malam itu, bahwa edisi Indonesia dari bukunya itu didasarkan atas buku yang ditulisnya dalam bahasa Belanda. Isinya sebagian terdiri dari terjemahan bukunya yg dalam bahasa Belanda, yaitu teks mengenai sejarah Bab VI s/d VIII. Menyangkut masa konflik Belanda dan Republik Indonesia sejak 1945 s/d Desember 1949.

Intinya ditambah dengan prolog dan epilog, Prolognya terutama membehandel sekitar gerakan kemerdekaan pada dasarwarsa pertama abad ke-XX . Sedangkan epilognya terdiri dari bab mengenai perbedaan tentang Irian Barat, yang akhirnya berkembang ke pemutusan tuntas hubungan
antara Nederland dan Republik Indonesia.

Seluruh buku akan menjadi kira-kira 400 halaman, Dicetak sebanyak 2000 eks. Itu berarti empat kali lipat edisi aslinya.

Tidak ada sikap lain, kecuali KITA MENYAMBUT HANGAT edisi Indonesia BUKU SEJARAH INDONESIA "DE OOIEVAAR EN DE GAROEDA" yang ditulis oleh sarjana Belanda Herman Burgers.*

* * *

SUATU KEGIATAN "HISTORY-MINDED" YANG PATUT DIHARGAI - PATUT DIHADIRI - PAMERAN ARSIP BUDI UTOMO...



Kolom  IBRAHIM ISA
Senin Pagi, 18 Agustus 2014
---------------------------------------

SUATU KEGIATAN "HISTORY-MINDED" YANG PATUT DIHARGAI
 
PATUT DIHADIRI - PAMERAN ARSIP BUDI UTOMO...

*    *    *

Ini adalah kegiatan yang bagus -- suatu kerjasama antara

ARSIP NASIONAL INDONESIA
ARSIP NASIONAL BELANDA
ERASMUS HUIS DAN
MAJALAH HISTORIA

Bravo! Bravo! Bravo!

* * *

Ini suatu kegiatan permulaan yang harus ditindak lanjuti dengan program kegiatan lainnya secara reguler.

Suatu kegiatan sejarawani dua negeri, Indonesia dan Belanda -- menuju kerjasama lebih erat dan kongkrit untuk usaha membentuk suatu komisi terdiri dari Indonesia dan Belanda yang akan meneliti, menstudi dan kemudian melakukan pencatatan atau bahkan PENULISAN BERSAMA Sejarah Indonesia (Indonesia-Belanda)

AMIEN . . .

*    *    *
BONNIE TRIYANA

Mengundang kawan-kawan untuk hadir dalam pembukaan Pameran Arsip Boedi Oetomo, Kamis, 21 Agustus 2014, di Gedung Arsip, Jl. Gadjah Mada, Jakarta. Pukul: 14:00 - Selesai. Acara akan dibuka oleh Wakil Ketua DPR RI Dr Pramono Anung, Kepala ANRI Drs Mustari Irawan, MPA, Direktur Arsip Nasional Belanda Prof. Charles Jeurgens dan Wakil Duta Besar Belanda Wouter Plomp. Konfirmasi kehadiran silahkan kirim sms/telpon ke: 021-34654304 (Miftah).

Diskusi "Boedi Oetomo: Untuk Kebangkitan Nasional atau Kebangkitan Priyayi Jawa" akan diselenggarakan pada Jum'at, 22 Agustus 2014, pukul 19:00 malam, di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan, Jakarta. Pembicara: Dr. Hilmar Farid, Dr. Hoesein Rushdy dan Budiman Sudjatmiko.

Acara ini kolaborasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Arsip Nasional Belanda, Erasmus Huis dan Majalah Historia. Terima kasih.



ARTI TERAMAT PENTING “WASIAT BUNG HATTA” < Sekitar Lahirnya Pancasila, “Piagam Jakarta”: dan UUD 1945>

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu Pagi 17 Agustus 2014
--------------------------------------

ARTI TERAMAT PENTING “WASIAT BUNG HATTA”
< Sekitar Lahirnya Pancasila, “Piagam Jakarta”: dan UUD 1945>

* * *

Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir dengan diproklamasikannya KEMERDEKAAN INDONESIA oleh Sukarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Barangkali Republik Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di dunia ini yang sebelum lahirnya – falsafah yang menjadi dasar falsafah negara – telah diciptakan, dibicarakan, dirumuskan dan disetujui bersama terlebih dahulu oleh para wakil rakyatnya.

Negara Republik Indonesia lahir di atas suatu dasar falsafah negara , yang telah disiapkan terlebih dahulu, yaitu falsafah “Pancasila”.

* * *

Latar Belakang Sejarah Lahirnya “Pancasila”,
Piagam Jakarta” dan UUD 1945

Adalah penting sekali bagi generasi penerus usaha pembangunan negara Republik Indonesia yang makmur, adil dan jaya, untuk, mengetahui, memahami dan mengkhayati sejarah Proklamasi Republik Indonesia 17 Austustus 1945, serta latar belakang sejarahnya.

Sehubungan dengan itu, mari kita telusuri kembali, WASIAT Bung HATTA Kepada Guntur Sukarno Putra, tertanggal Jakarta, 16 Juni 1978 -- dalam usaha memahami dan mengkhayatinya.

Wasiat Bung Hatta itu dikeluarkannya, ketika penguasa, media dan masyarakat sejarawan, memasaalahkan sekitar “PANCASILA”. Siapa yang menciptakannya, kapan serta saling hubungannya dengan persiapan kemerdekaan Indonesia di kala negeri kita masih diduduki militer Jepang. Serta kaitannya dengan pekerjaan Panitiaa Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia; dan dengan Piagam Jakarta dan UUD 1945.

Arti teramat penting Wasiat Bung Hatta tsb ialah: Ketika di Indonesia di bawah rezim otoriter Orde Baru, hak-hak demokrasi masih dipasung oleh penguasa,

-- Muhammad Hatta dengan TEGAS, JELAS DAN BERANI membikin jelas masalah-masalah yang sedang ramai dibicarakan dan menjadi perhatian masyarakat dan penguasa.

* * *
WASIAT BUNG HATTA 16 Juni 1978 itu a.l membikin jelas masalah- masalah sbb:

-- Bahwa PANCASILA lahir dengan diucapkannya pidato Bung Karno dimuka sidang Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia, yang diketuai oleh dr Radjiman.

-- Bahwa sebuah Pantia Kecil dibentuk untuk merumuskn kembali Pancasila yang terdiri dari Panitia 9, dimana orang pertama dan keduanya adalah Ir Sukarno dan drs Muhammad Hatta.

-- Bahwa hasil kesimpulan Panitia 9 orang itu telah merumuskan lima sila PANCASILA, yang disebut “Piagam Jakarta”.

-- Bahwa Piagam Jakarta dijadikan Pembukaan Undang-Undang Dasar yang sudah menjadi satu dokumen negara.

-- Bahwa kata-kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi . . “dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluknya” -- telah dicoret, karena . . “7 perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja, pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia Timur keberatan, kalau 7 kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok dari pokok dasar negara kita, sehingga menimbulkan kesan, seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam.

-- Bahwa dalam seluruh proses lahirnya Pancasila dan UUD 1945, Sukarno dan Muhammad Hatta sepenuhnya ambil bagian aktif dalam suasana kerjasama, musyawarah dan mufakat.

* * *

Di bawah ini adalah teks lengkap WASIAT BUNG HATTA Kepada Guntur Sukarno Putra:

WASIAT BUNG HATTA
KEPADA GUNTUR SUKARNO PUTRA

Dekat pada akhir bulan Mei 1945 dr. Radjiman, Ketua Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia, membuka sidang panitia itu dengan mengemukakan pertanyaan kepada rapat:

Negara Indonesia Merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya?” Kebanyakan anggota tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena takut pertanyaan itu akan menimnbulkan persoalan filosofi yang akan berpanjang-panjang. Mereka langsung membicarakan soal Undang-undang Dasar.

Salah seorang dari pada anggota Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan itu, yang menjawab pertanyaan itu adalah Bung Karno, yang mengucapkan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, yang berjudul Pancasila, lima sila, yang lamanya kira-kira satu jam. Pidato itu menarik anggota Panitia dan disambut dengan tepuk tangan yang riuh. Sesudah itu sidang mengangkat suatu Panitia Kecil untuk merumuskan kembali Pancasila yang diucapkan Bung Karno itu.
Diantaraq Panitia itu dipilih lagi 9 orang yang akan melaksanakan tugas itu, yaitu:

Ir. Sukarno
Muhammad Hatta
Mr. A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosoejoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Mr Ahmad Soebardjo
Wahid Hasyim
Mr Muhammad Yamin

Orang sembilan ini mengubah susunan 5 sila itu, dan meletakkan sila Ketuhanan Yang |Maha Esa di atas, sila kedua yang dalam rumusan Sukarno disebut Internasionalisme atau Perikemanusiaan diganti dengan Perikemanusiaan yang adil dan beradab, sila ketiga disebut Persatuan Indonesia pengganti sila Kebangsaan Indonesia yang dalam rumusan Bung Karno dia ditaruh di atas jadi sila pertama. Sila keempat disebut Kerakyatan, yang dalam rumusan Bung Karno sebagai sila Kesejahteraan sosial.

Pada tanggal 22 Juni 1945 pembarun perumusan Panitia 9 itu diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia dan diberi nama “Piagam Jakarta”. Kemudian seluruh “Piagam Jakarta” dijadikan Pembukaan ”Undang-Undang Dasar 1945”, sehingga ”Pancasila dan Undang-Undang Dasar” menjadi “Dokumen Negara Pokok”.

Pancasila dan Undang-Undang Dasar yang sudah menjadi satu Dokumen Negara itu diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan.

Yang dicoret ialah 7 perkataan di belakang Ketuhanan, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluknya”.

Sesungguhnya 7 perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja, pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia Timur keberatn, kalau 7 kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok dari pokok dasar negara kita, sehingga menimbulkan kesan, seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam.

Pada tanggal 29 Austus 1945 Komite Nasiuonal Indonesia dalam rapatnya yang pertama sudah mengesahkan Undang-Undang Dasar yang diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan sekarang sudah menjadi UUD negara kita lagi.

Jakarta, 16 Juni 1978
Muhammad Hatta


* * *









15 AGUSTUS 1945 --- SAAT KERUNTUHAN PENJAJAHAN JEPANG-FASIS DI ASIA DUA HARI KEMUDIAN -- 17 AGUSTUS 1945, – BANGSA INDONESIA MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at Malam, 15 Agustus 2014
-------------------------------------------

15 AGUSTUS 1945 --- SAAT KERUNTUHAN PENJAJAHAN JEPANG-FASIS DI ASIA
DUA HARI KEMUDIAN -- 17 AGUSTUS 1945, – BANGSA INDONESIA MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

* * *

Hari ini 69 tahun yang lalu -- Jepang yang kekuatan militernya masih berdominasi di daratan Asia, -- i.e.  Sebagian  (kecil wilayah) Tiongkok, Thailand, Birma, India (bagian Timur), Ceylon, Kambodja, Laos, Vietnam, Malaya; dan kepulauan antara benua Asia dan Australia -- Indonesia dan Filipina; ---
TELAH MENYERAH TANPA SYARAT KEPADA SEKUTU. Juga dikenal dengan nama aliansi kekuatan A-B-C-D- .

Menyerahnya Balatentara Dai Nippon, terutama disebabkan oleh DUA BUAH BOM ATOM yang diledakkan Amerika Serikat di atas kota berpenduduk padat: Hiroshima dan Nagasaki. Korban begitu besar yang timbul di fihak penduduk sipil Jepang oleh dua ledakan bom atom AS itu, merupakan faktor yang menentukan Kaisar Hirohito bertekuk lutut. Meskipun ketika itu kekuatan militer Jepang masih cukup besar .

*    *    *

Peristiwa penting tsb punya arti sejarah luar biasa bagi bangsa-banga Asia, khususnya bagi Indonesia.
Para pemimpin nasional Indonesia dengan sigap memanfaatkan momentum historis, yaitu ketika tentara pendudukan Jepang menyerah, halmana menyebabkan secara moral, mental dan politik mereka telah terlucuti samasekali - hilang semangat "Bushido"-nya yang bersedia berkorban segala-galanya demi Tenno Heika yang dianggapnya masih keturunan Dewa-Dewa dari Kayangan.

* * *

Para pemimpin nasional perjuangan kemerdekaan Indonesia dibawah pimpinan Sukarno-Hatta dengan pandai menggunakan 'kesempatan emas' tsb – dengan timbulnya 'political vacume' yang terdapat di Indonsia ketika itu. Secepat kilat, bijaksana dan PASTI, dua hari setelah Jepang menyerah Sukarno-Hata atas nama Bangsa Indonesia -- MEMPROKLMASIKAN KEMERDEKAAN INDONESIA, pada 17 Agustus 1945. Halmana merupakan puncak dari lahir, perkembangan dan bertambah besarnya kekuatan revolusi Indonesia.


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan SANGKAKALA dimulainya REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA, suatu revolusi politik dan fisik (bersenjata) melawan kekuatan militer Jepang, Inggris dan Belanda.


* * *


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dua hari setelah Jepang menyerah --- adalah peristiwa paling besar dan terpenting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan nasionalnya. Menjadikannya anggota yang sedrajat dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya di masyarakat internasional.


Sekaligus juga menunjukkan bahwa KEMERDEKAAN INDONESIA BUKAN HADIAH DARI JEPANG ATAU SIAPAPUN.
Bangsa Indonesia telah merebut nasib dan haridepannya di tangannya sendiri. * * *




Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Siang, 13 Agustus 2014
-------------------------------------

IN MEMORIAM IMAM SUDJONO

* * *

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN . . .

Hari ini seorang sahabat lama, IMAM SUDJONO, meninggal dunia di Amsterdam setelah menderita sakit dalam waktu panjang. Semoga arwah Imam Sudjono diterima di Sisi Tuhan YME. Teriring doa dan harapan agar keluarga Imam Sudjono yang ditinggalkan , dengan tabah melewati hari-hari duka ini.

Kaum demokrat dan proresif Indonesia kehilangan seorang warga yang telah mencurahkan perhatian dan studinya untuk melakukan 'penulisan kembali sejarah Indonesia' yang dalam periode Orde Baru telah direkayasa dan dipalsukan.

* * *

Imam Sudjono telah tiada.
Namun, -- Kita akan selalu mengenang IMAM SUDJONO, sebagai seorang yang selalu hangat terhadap sesama kawan. Ia adalah salah seorang teladan, warga Indonesia pencinta TANAH AIR DAN BANGSA, --- Meskipun puluhan tahun terpaksa tinggal di luarnegei disebabkan oleh persekusi rezim Orde Baru. --- Perhatian dan semangat patriotisme progresif tetap bersemayam dalam tubuh, semangat dan jiwanya.

Pada tahun 2006, Imam Sudjono menerbitkan bukunya yang monumental berjudul – 'YANG BERLAWAN'

Menunjukkan bahwa Imam Sudjono tidak tinggal diam menghadapi pemutar balikkan sejarah oleh rezim otoriter Orde Baru. Bertahun-tahun lamanya Imam Sudjono mencurahkan perhatian, waktu dan studinya mempersiapkan buku bersejarah -- “YANG BERLAWAN.” Judul buku “YANG BERLAWAN” tidaklah kebetulan. Buku tsb merupakan manifestasi perlawanan Imam Sudjono terhadap pemalsuan sejarah oleh Orde Baru. Sekaligus merupakan usaha serius untuk melakukan penulisan kembali sejarah – MELEMPANGKAN APA YANG DIBENGKOKKAN OLEH ORDE BARU .


* * *

Di bawah ini dimuat sebuah resensi oleh *) Gugun El-Guyanie, pustakawan Kutub Yogyakarta tentang buku Imam Sudjono --- “YANG BERLAWAN”:

Judul Buku: Yang Berlawan,
Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI
Membongkar Hegemoni Sejarah

* * *

Jurnalnet.com (Jogja): Sejarah bukanlah dewa yang tidak bisa lepas dari kesalahan atau bahkan pemalsuan atas kebenaran. Begitu pula sejarah PKI ketika rezim despotis Orde Baru mencengkeramkan kekuasaannya. Wajah suram, kebengisan, dan segala stereotip buruk disematkan pada salah satu gerakan politik tersebut. mencengkeramkan kekuasaannya.

Penguasa Orde Baru menyebutnya pengkhianat, pemberontak, antikemanusiaan dan atheis. Wajar jika image tersebut terbukti ampuh dijadikan sebagai alat untuk memberangus dan memusnahkan PKI dari bumi pertiwi. Tapi apakah benar bahwa organisasi politik yang bernama PKI melakukan tindakan sekejam itu?

Buku inilah yang memberi pandangan lain yang secara berani menentang arus hegemoni wacana Orde Baru. Kesaksian yang berbicara seiring perjalanan sejarah dengan terbuka, lugas, dan objektif.

Warna lain yang dihadirkan oleh buku ini adalah sejarah PKI yang selalu didominasi oleh warna-warna gelap, kini sisi lain yang mengungkap kontribusi, prestasi, dan peranan monumental kepada Republik tercinta ditampilkan. Sebagaimana organ gerakan politik lain semasanya, PKI juga banyak memberikan sumbangan berarti bagi kehidupan bangsa ini.

Kumpulan catatan Imam Sudjono, penulis buku ini, terpaksa hijrah ke negeri Belanda dan sejak tahun 1998 mulai menyusun karya ini. George Junus Aditjondro, dalam pengantarnya menyebut penulis sebagai seorang 'sejarawan amatir', yang dengan menulis buku ini, memenuhi panggilannya sebagai seorang cendekiawan, yang menurut Foucoult, bertugas membangkitkan pengetahuan-pengetahuan yang tertindas.

Juga S Mintardjo dalam pengantarnya yang mengungkapkan bagaimana lika-liku penulisan buku ini yang penuh jalan terjal. Penulisan buku ini merupakan tindak lanjut dari perbincangan bebas yang tidak terjadwal di antara sekelompok orang yang memiliki keprihatinan tentang sejarah Indonesia mengenai berbagai persoalan sejarah bangsa Indonesia .

Dalam Bab II yang menguraikan kebangkitan kembali PKI, pemberontakan rakyat pada tahun 1926-1927 mengalami kegagalan. Para pemimpin PKI terkemuka seperti Tan Malaka, Semaun, Darsono, Alimin, dan Musso masih bebas dan berada di luar Indonesia.

Tiga yang pertama sebelum pemberontakan meletus telah berada di luar negeri karena dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda. Semaun dan Darsono tinggal di Moskow, sedangkan Tan Malaka mewakili Komintern untuk Timur Jauh di Manila.

Sementara itu, Alimin dan Musso setelah tidak berhasil pulang ke Indonesia untuk menyampaikan keputusan Komintern mengenai pemberontakan kembali ke Moskow. Setelah kekalahan pemberontakan, pada diri Tan Malaka, menurut Poeze, timbul kekecewaan terhadap Komintern. Oleh karena itu dengan diam-diam dan sangat rahasia, tanpa sepengetahuan Komintern, pada bulan Juni 1927 Tan Malaka mendirikan PARI di Bangkok dengan bantuan Djamaluddin Tamin (hlm 43).

Kemudian pada tahun 1920-an dan awal 30-an terdapat berbagai hal penting. Pada tanggal 23 Mei 1920 telah lahir PKI. Di dalam keterangan Azas (beginsel-verklaring) yang dikeluarkan oleh Hoofdbestiir Partai Komunis Indonesia (Weltevreden, 1924) dinyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) bermaksud menghimpun kaum proletar dan kaum tani Indonesia dalam suatu perserikatan politik yang merdeka, dengan tidak memandang bangsa atau agama.

Dari sini telah tampak bahwa sejak lahirnya PKI melakukan perjuangan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia tanpa membedakan keyakinan agama. Bangsa Indonesia yang dimaksud dalam keterangan itu adalah semua suku bangsa, yang bertempat tinggal di seluruh wilayah jajahan Belanda. Tujuan berdirinya PKI dikatakan 'bagi rakyat pekerja untuk merebut kemerdekaannya'. Pada 1926 timbul pemberontakan rakyat Indonesia yang dipimpin oleh PKI dan bertujuan untuk menggulingkan dan mengusir kaum imperialis Belanda dan mendirikan kekuasaan rakyat Indonesia (hlm 61).

*) Gugun El-Guyanie, pustakawan Kutub Yogyakarta

* * *




"ORANG ARAB MENYEBUTNYA AL-LUDD ORANG YAHUDI MENYEBUTNYA . . . LOD”

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 12 Agustus 2014
----------------------------------------
"ORANG ARAB MENYEBUTNYA AL-LUDD
ORANG YAHUDI MENYEBUTNYA . . . LOD”

< Goenawan Mohamad Sekitar Berdirinya Negara Israel dan Persekusi terhadap Orang-Orang Palestina>

Setiap pagi dan malam menjelang istirahat tidur, Murti dan aku sudah terbiasa membaca. Aku yang membaca, Murti yang mendengar dan mengomentari. . . Biasanya yang dibaca, adalah buku yang baru dibeli. Terkadang juga salah sebuah artikel penting dan menarik di majalah a.l “Time”, “De Groene Amsterdammer” atau di s.k., Belanda “de Volkskrant”. Seringkali juga bacaan yang kutemui di media internet: Banyak, banyak sekali . . . antara lain di 'mailistnya “Gelora45' atau di 'Jaringan Kerja Indonesia' (JKI) . . .,

Dan begitu banyak bahan-bahan penting dan menarik yang dengan rajin dan tekun selalu dikirimi oleh Dr Salim Said . . .

Membaca pada setiap pagi dan malam, sudah menjadi 'tradisi' kami bertahun-tahun lamanya. Kalau tidak membaca 'sesuatu' hari itu, terasa 'ada yang kurang'.
Di balik hobi membaca, sesungguhnya, . . . untukku – 'kebiasaan membaca' itu merupakan semacam 'terapi' untuk selalu 'alert' terhadap apa yang terjadi di dunia ini. Mengikuti dengan penuh perhatian apa yang terjadi di Tanah Air, di mancanegara dan di kehidupan rill sehari-hari. Di sekitar kita. Demikianlah, hari ini, kubaca di FB kiriman GOENAWAN MOHAMAD, berjudul

AL-LUDD, 1948 – 2014”
Goenawan Mohamad memulai 'ceritanya' tentang sebuah desa yang orang-orang Arab menyebutnya AL-LUDD. Orang-orang Yahudi menyebutnya LOD. Dengan kata-kata keras dan tajam Goenawan Mohamad mulai mengisahkan latar belakang sejarah dari apa yang terjadi sekarang di Gaza, Palestina dan Israel, dengan kalimat-kalimat ini:

Sejarah yang brutal, sengsara, dan tak berujung itu mungkin dimulai di sebuah kota kecil Palestina, 15 kikometer di tenggara Tel Aviv. Orang Arab menyebutnya al-Ludd (الْلُدّ), orang Yahudi menyebutnya Lod.”

Goenawan Mohamad menunjuk pada fakta sejarah yang dilukiskannya singkat padat, sbb:

Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memaklumkan berdirinya Negara Israel di wilayah itu -- wilayah yang mereka anggap diwariskan buat mereka tapi yang berabad-abad lamanya dihuni orang Arab. Tak ayal, tentara Arab dari sekitar pun menyerbu.
Mereka gagal. Bahkan sebaliknya yang terjadi: Israel memperluas kekuasannya. Di awal Juli, Operasi Larlar diluncurkan untuk merebut beberapa wilayah di Palestina, termasuk al-Ludd.”
Mengisahkan apa yang terjadi selanjutnya, tulis Goenawan Mohamad:
Malam itu juga posisi-posisi kunci di pusat kota direbut. Penduduk Palestina, dalam jumlah ribuan, dipaksa masuk ke dalam masjid utama. Ketika beberapa orang Arab mencoba melawan dengan menembaki tentara Israel dari dekat sebuah masjid kecil, balasan datang tak tanggung-tanggung.
Granat dilontarkan ke rumah-rumah. Masjid kecil itu ditembak dengan peluru anti-tank. "Dalam 3o menit, dua ratus lima puluh orang Palestina tewas", tulis Shavit. "Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd".
Dan itu bukan akhir cerita. Setelah kota diduduki, Yitzhak Rabin, perwira operasi, meneruskan keputusan Ben-Gurion dalam sebuah instrukti tertulis:
Penduduk al-Ludd harus diusir secepatnya, tanpa memandang umur."
Menjelang malam, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka -- dalam barisan yang amat panjang menuju Timur. Tak pernah bisa kembali.


Silakan dibaca sendiri kisah Goenawan Mohammad sekitar Palestina – Israel, yang amat mengesankan, menyentuh hati, mengetuk nurani. Amat menggugah sekaligus merupakan suatu penulisan kecil sejarah mengenai peristiwa besar. Tulisan ini membawa pembawa pembaca menuju ke pencerahan fikiran mengenai masalah yang dibicarakan:

GOENAWAN MOHAMAD:
Al-Ludd, 1948-2014-....
Sejarah yang brutal, sengsara, dan tak berujung itu mungkin dimulai di sebuah kota kecil Palestina, 15 kikometer di tenggara Tel Aviv. Orang Arab menyebutnya al-Ludd (الْلُدّ), orang Yahudi menyebutnya Lod.
Sebelum zaman diguncang Perang Dunia II, di kota itu penduduk Arab hidup tenang berdampingan dengan para pemukim Yahudi yang datang sejak 1903. Di lembah al-Ludd, seorang Yahudi pendatang mendirikan sebuah pabrik sabun dari minyak zaitun; yang lain sebuah rumah yatim piatu korban pengusiran paksa di Eropa Timur.
Tak ada yang benar-benar berhasil. Tapi kemudian, pada 1927, datang Siegfried Lehman.
Mantan dokter tentara Jerman itu lahir di Berlin pada 1892 dari keluarga Yahudi yang kaya dan dermawan. Pada 1917 ia mendirikan rumah penampungan bagi yatim-piatu Yahudi di kota Kovnia, Lithuania. Tapi keadaan memburuk; di sini pun orang Yahudi dimusuhi. Ia memutuskan pindah ke Palestina.

Seperti para pendahulunya, ia memilih lembah di atas al-Ludd. Di sana ia dirikan sebuah "desa-pemuda", dengan nama Ben Shemen. Di situ para anak asuh dilatih beternak, berkebun, berladang anggur, sambil bersekolah. Menjelang 1946, ada 500 murid dari umur 12 sampai dengan 18 yang tercatat di Ben Shemen: sebuah zona kecil Zionis yang damai -- yang tak disangka kelak akan bertaut dengan perang, pembantaian, dan pembuangan.

Pada mulanya, hubungan Lehmann dengan penduduk Arab di al-Ludd akrab. Ketika gempa bumi menghancurkan sebagian kota dan menewaskan sejumlah penduduk, dokter Yahudi-Jerman itu datang merawat korban yang luka-luka. Kliniknya terbuka bagi orang-orang Palestina. Para pemuda Zionis membangun sebuah air mancur tempat penduduk kota bisa minum ketika hari terik. Tiap akhir pekan, murid-murid Ben Shehmen berkunjung ke dusun-dusun Arab di sekitar itu. Di tiap festival desa-pemuda, pemain musik dan penari masyarakat Arab diundang serta.

Tapi suasana seperti gambar di kartupos yang cantik itu tak bertahan. Di tahun-tahun itu dunia digedor pelbagai hal. Timur Tengah berubah jadi sebuah tragedi dengan peta baru. Sehabis Perang Dunia II negara-negara pemenang mengesahkan sebuah tempat bagi sisa-sisa orang Yahudi yang hendak dihabisi Hitler. Inggris melepaskan posisinya sebagai pengampu wilayah Palestina, dan bagi kaum Zionis yang berjuang buat kemerdekaan bangsa Yahudi, itulah negeri yang dijanjikan Tuhan dan sejarah. Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memaklumkan berdirinya Negara Israel di wilayah itu -- wilayah yang mereka anggap diwariskan buat mereka tapi yang berabad-abad lamanya dihuni orang Arab. Tak ayal, tentara Arab dari sekitar pun menyerbu.

Mereka gagal. Bahkan sebaliknya yang terjadi: Israel memperluas kekuasannya. Di awal Juli, Operasi Larlar diluncurkan untuk merebut beberapa wilayah di Palestina, termasuk al-Ludd.
Ari Shavit, yang baru-baru ini menerbitkan bukunya, My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel, pernah mengisahkan apa yang terjadi di al-Ludd dalam majalah The New Yorker, 21 Oktober 2013. Ia menulis sebuah catatan sejarah, tapi juga perenungan kembali dengan beberapa pertanyaan besar yang tak terjawab.
11 Juli 1948, tentara Israel, dengan dibantu batalion yang dipimpin Moshe Dayan -- lengkap dengan sebuah kendaraan berlapis baja yang dipasangi kanon -- menyerbu al-Ludd, disertai para pemuda yang telah dilatih perang dari Ben Sheman. Kota itu dicoba pertahankan para milisia Arab. Tapi dalam 47 menit, belasan orang Arab tewas, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak. Di pihak Israel, sembilan orang mati.

Malam itu juga posisi-posisi kunci di pusat kota direbut. Penduduk Palestina, dalam jumlah ribuan, dipaksa masuk ke dalam masjid utama. Ketika beberapa orang Arab mencoba melawan dengan menembaki tentara Israel dari dekat sebuah masjid kecil, balasan datang tak tanggung-tanggung.
Granat dilontarkan ke rumah-rumah. Masjid kecil itu ditembak dengan peluru anti-tank. "Dalam 3o menit, dua ratus lima puluh orang Palestina tewas", tulis Shavit. "Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd".
Dan itu bukan akhir cerita. Setelah kota diduduki, Yitzhak Rabin, perwira operasi, meneruskan keputusan Ben-Gurion dalam sebuah instrukti tertulis: “Penduduk al-Ludd harus diusir secepatnya, tanpa memandang umur."

Menjelang malam, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka -- dalam barisan yang amat panjang menuju Timur. Tak pernah bisa kembali.
Avi Shavit menuliskan adegan itu dengan nada sedih. Ia tahu kekejaman telah terjadi terhadap orang Palestina yang tak berdosa dan tak berdaya itu -- orang-orang usiran abad ke-20, seperti bangsa Yahudi, orang-orang usiran abad ke-6 Sebelum Masehi. Tapi ia tak mengutuk. Wartawan Harian Ha'aretz itu tak sanggup mengutuk para pemimpin Israel yang memerintahkan kesewenang-wenangan di al-Ludd. "Tanpa mereka," tulisnya, "aku tak akan pernah dilahirkan. Mereka melakukan kerja yang keji itu yang memungkinkan bangsaku, rakyatku, anak-anakku, dan diriku, hidup".
Shavit lahir di Rehovot, 20 kilometer dari Tel Aviv, sembilan tahun setelah Negara Israel berdiri. Ada yang jujur dalam pernyataannya: ia mengaku tak berdaya di tengah pilihan-pilihan moral yang sulit.
Ia ingat Mula Cohen, komandan tentara yang mengawasi pengusiran orang-orang Palestina di senja itu. Shavit mewawancarai orang ini seperempat abad setelah kejadian di al-Ludd. Cohen bercerita, bagaimana ia menyaksikan orang-orang Palestina yang diusir itu, tua muda, berjalan makin lama makin jauh, memanggul barang, sampai tak tahan lagi dan membuang apa yang ingin mereka simpan dalam pengasingan.

Cohen seorang prajurit yang berasal dari Ben Shemen; ia telah memperoleh didikan dokter Lehmann yang mengenal baik orang-orang Palestina itu. Meskipun ia tak merasa bersalah, ia merasa ada yang menekan di hatinya. Ia saksikan pembunuhan, penjarahan, rasa marah, dendam. Ia saksikan rombongan orang-orang Arab yang dihalau. Di hadapan semua itu ia merasa "pendidikan humanis" yang didapatkannya di Ben Shemen runtuh. Ia merasa ada sesuatu yang luar biasa besar yang tak dapat dihadapinya, sesuatu yang bahkan tak dapat dimengerti.

Pada akhirnya, orang memang bisa bertopang pada sejenis pragmatisme: apa saja yang bisa menghasilkan yang baik, itulah yang harus dinilai. "Perang memang tak manusiawi", kata Shmarya Gutman, dulu perwira yang ditugasi jadi gubernur militer Israel setelah al-Ludd diduduki. “Tapi perang...bisa memecahkan soal-soal yang tak terpecahkan di masa damai."

Shavit tak mengatakan demikian -- dan mungkin sebab itu ia tak bisa lepas dari dilema yang berkecamuk dalam dirinya. Ia tak bisa "mencuci tangan"-nya dari Zionisme. Ia tak bisa mengingkari kebutuhan orang Yahudi untuk memiliki tanah air mereka sendiri. Akhirnya seperti Cohen, ia merasa berbenturan dengan sesuatu yang demikian besar yang tak dapat ia hadapi.

Tapi dengan demikian ia mengelakkan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia memang berbeda dari banyak orang Israel yang selamanya menyangkal bahwa riwayat Israel bukan cuma cerita peradaban, tapi juga barbarisme. Bagaimanapun juga, ada yang masih kurang. Shavit tak bertanya lebih jauh: haruskah al-Ludd bernasib demikian? Tak adakah jalan lain?
Ia menyimpulkan penaklukan al-Ludd dan pengusiran penduduk kota itu "bukan sebuah kebetulan". "Kejadian-kejadian itu merupakan satu fase yang menentukan dalam revolusi Zionis", tulisnya. Di al-Ludd pasukan Yahudi praktis meletakkan batu awal negara Israel -- sebab kota itu strategis, sebab dari sana bandara internasional yang menghubungkan republik baru itu dengan bantuan dari dunia luar bisa diganggu.
Tapi haruskah sebuah negara berdiri dengan menghalau 35 ribu orang yang tak dikehendaki -- dan mereka tak dikehendaki karena mereka dianggap ancaman, dan mereka dianggap ancaman hanya karena mereka bukan sekaum, berbeda label dan identifikasi?

Perang memecahkan soal-soal yang tak terpecahkan dalam masa damai, kata Gutman. Dan kekejaman di al-Ludd itu, kata Shavit, memungkinkan sebuah bangsa memperoleh tempat berlindung di mana generasi-generasi tumbuh, juga anak-anak muda yang menampik melanjutkan kekejaman.
Tapi pragmatisme demi-sebuah-masyarakat-baru seperti ini bisa jadi dalih siapa saja -- dari Polpot sampai dengan para jenderal yang menghabisi ratusan nyawa di Bosnia. Siapkah Israel, dan Amerika Serikat, melihat yang terjadi di Palestina dengan ukuran yang sama?

Sampai hari ini, Israel dengan susah payah mencoba menjawab, atau menampik, pertanyaan seperti itu. Sampai hari ini, sejarah yang brutal itu seperti tak berujung.
Mungkin itu sebabnya Shavit menutup tulisannya dengan satu paragraf panjang yang muram:

"Dari titik tertinggi desa-pemuda Ben Shemen, aku memandang ke Lembah al-Ludd. Kulihat kota dan menara tinggi masjid besar. Kulihat rerimbun pohon-pohon zaitun yang punah, dusun Lehmann yang hilang. Dan aku renungkan tragedi yang dulu terjadi di sini. Empatpuluh-lima tahun setelah orang-orang Yahudi diusir paksa di Eropa, Zionisme tiba di Lembah al-Ludd dan memulai malapetaka manusia. Empatpuluh-lima tahun setelah masuk ke Lembah al-Ludd atas nama mereka yang kehilangan rumah, Zionisme mengusir barisan orang-orang yang kehilangan rumah. Di bawah panas yang berat, menembus kabut debu, melintasi padang-padang kering yang kecoklatan, kulihat mereka bergerak ke timur. Begitu banyak tahun telah berlalu, tapi barisan itu tetap bergerak ke timur..."

Gerak itu tak juga berhenti, mungkin tak akan berhenti. Sampai hari ini, seperti yang bisa disaksikan di Gaza, orang Palestina terus menerus dibantai, terus menerus melawan, terus menerus diabaikan dunia.

Sejarah memang tak pernah menjanjikan penutup yang bahagia bagi semua orang; juga tak ada happy ending yang jadi akhir selama-lamanya. Tapi sejarah juga terdiri dari tindakan yang tak henti-hentinya membangkang, menuntut: al-Ludd, kata lain dari kesewenang-wenangan, tak boleh terjadi lagi. Goenawan Mohamad * * *


Sebuah Masukan (Christianto WIBISONO) Untuk KABINET JOKOWI Yang PATUT DIPERTIMBANGKAN




Kolom IBRAHIM ISA
Minggu Malam, 10 Agustus 2014
----------------------------------------------


Sebuah Masukan (Christianto WIBISONO)
Untuk KABINET JOKOWI Yang PATUT DIPERTIMBANGKAN
* * *
Christianto Wibisono, adalah salah seorang pendiri mingguan TEMPO, dan Pengelola “Gobal Nexus Institute” < Chr. Wibisono pernah ditawari oleh Presiden Wahid jabatan Menko Ekonomi - yang ditolaknya>. Meskipun sekarang berdomisili di Amerika, hatinya dan perhatiannya selalu tertuju pada tanah air tercinta.

Baru-baru ini Chr. Wibisono mengajukan saran untuk Kabinet Jokowi - YANG PERLU DIPERTIMBNGKAN !!

* * *

Dalam sarannya itu Chr Wibisono a.l menulis:


- - - Berdasarkan riwayat historis jatuh bangunnya kabinet RI yang pernah mencapai rekor 104 menteri (Kabinet Dwikora II 24 Feb-28 Maret 1966) maka RI era Jokowi dalam kompetisi dengan G20 cukup memiliki 17 kementerian.

--- yang siap untuk tidak populis (dalam arti tidak meninabobokkan rakyat) dengan program yang menyenangkan rakyat tapi tidak bermanfaat bagi kepentingan nasional.

--- Pada akhir 1997 Pusat Data Bisnis Indonesia atas penugasan BAPPENAS melakukan kajian ANATOMI EMPIRIS HISTORIS KABINET G20 DAN RI . . . . . PDBI merujuk pada studi pakar fisika Davide Castelvecchi . . . yang berjudul The Undeciders. Temuan uniknya disimpulkan dalam kalimat: “ More decision makers bring less efficiency. Researchers have found an inverse correlation between a country’s level of development and cabinet size: the more developed a country is, the smaller is its cabinet.”

* * *

Kemudian disampaikannya bahwa:
---

Studi PDBI ini akan diluncurkan dan didiskusikan dengan CEO professional politisi dan pemerhati serta pengamat pada acara Members Gathering PDBI hari Selasa 26 Agustus 2014 informasi lebih lanjut email ke jwiryadi@pdbionline.com

* * *

Lengkapnya saran Christianto Wibisono, adalah sbb:

EFISIENSI KABINET JOKOWI
Berdasarkan riwayat historis jatuh bangunnya kabinet RI yang pernah mencapai rekor 104 menteri (Kabinet Dwikora II 24 Feb-28 Maret 1966) maka RI era Jokowi dalam kompetisi dengan G20 cukup memiliki 17 kementerian.



Pada akhir 1997 Pusat Data Bisnis Indonesia atas penugasan BAPPENAS melakukan kajian ANATOMI EMPIRIS HISTORIS KABINET G20 DAN RI . Sejak itu PDBI memperbaharui kajian tersebut sesuai dengan dinamika lengsernya Soeharto dan jatuh bangunnya presiden berikutnya dari Habibie, Gus Dur, Megawati hingga SBY JK dan SBY Boediono sampai Jokowi JK 2014. Pada kajian 2009, PDBI merujuk pada studi pakar fisika Davide Castelvecchi di majalah Science News 9 Mei 2008 yang berjudul The Undeciders. Temuan uniknya disimpulkan dalam kalimat: “ More decision makers bring less efficiency. Researchers have found an inverse correlation between a country’s level of development and cabinet size: the more developed a country is, the smaller is its cabinet.”



Memasuki masa transisi kepresidenan dari petahana SBY kepada Presiden Terpilih Jokowi, PDBI memberikan usulan yang menjawab tantangan zaman dan momentum trobosan era presiden popular yang siap untuk tidak populis (dalam arti tidak meninabobokkan rakyat) dengan program yang menyenangkan rakyat tapi tidak bermanfaat bagi kepentingan nasional.
Studi PDBI ini akan diluncurkan dan didiskusikan dengan CEO professional politisi dan pemerhati serta pengamat pada acara Members Gathering PDBI hari Selasa 26 Agustus 2014 informasi lebih lanjut email ke jwiryadi@pdbionline.com






* * *